Kisah Seorang Kurir

Namaku Tardi. Ya, hanya Tardi. Bukan Tardi yang terkenal itu lho, seorang artis dan komikus dari perancis. Ada yang kenal? Rasanya tidak, walaupun ada mungkin hanya beberapa orang. Aku hanya orang biasa dan seorang kurir di perusahaan ekspedisi di kota Bengkoang.

Begitulah orang tuaku menamaiku sejak 30 tahun yang lalu. Perawakan kurus, tinggi, lumayan tampan kata orang disekelilingku. Penghisap rokok juga. Ya, sebagai pergaulan saja.

***
Alarm di Hp berdetak kencang saat jarum halusnya menunjukkan pukul 04.00 pagi. Aku yang tidak bisa tidur jika ada suara berisik membuat tubuhku bergerak untuk segera bangun. 

Saatnya bersih-bersih dan mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat tahajjud, serta bersiap untuk sholat subuh berjamaah di mesjid..

Azan pun berkomandang, langsung ku langkahkan kaki menuju mesjid yang jaraknya tidak sampai lima menit berjalan kaki dari rumah. 

Segera setelah itu, sarapan pagi, bersihkan motor dan bersiap menuju kantor.

Pukul tujuh teng, ku berangkat dari rumah menuju kantor yang berjarak 40 menit dari rumah. Jika motor di pacu, mungkin 30 menit saja sudah sampai ditujuan. Ah.. pelan saja, cepat pun datang barang-barang mungkin juga belum siap di input yang untuk diantar.

Pukul  tujuh empat puluh ku sudah di depan pagar kantor. Yups, buka pagarnya dulu, yang baru datang cuma pak Syam, koordinator kurir yang juga baru sampai dari Solok. Biasanya beliau berangkat dari solok selepas subuh. Senin sampai Sabtu sore di Padang dan sabtu sore baru pulang kembali menuju Solok. Beliau jugalah yang menjaga kantor.

Sambil menunggu keranjang paket dan dokumen terisi full oleh rekan-rekan operasional. Dokumen dan paket yang sudah siap diantar, ku pilah dahulu, disejajarkan urutannya. Mana alamat yang ragu, kupisahkan dan telpon sipenerima, untuk memastikan alamatnya dan kesediaannya ada di rumah atau di kantor pada saat pengantaran nanti. Jika tidak ada di rumah, maka paket atau dokumen tersebut ku pisahkan. Dan diantarkan keesokan harinya. Ada juga yang ku titip pada keempat temanku yang daerahnya masuk di daerah pengantaran. Terkadang hari ini, sipenerima tidak ada di rumah dan hanya ada di kantor. Kantornya ternyata berada di daerah pengantaran teman ku, tentunya ku titip pada beliau. Begitu pula sebaliknya, aku pun harus ikhlas menerima dokumen/paket limpahan dari teman-temanku.

Akhirnya, paket dan dokumen terkumpul semua, yang tersisa satu atau dua yang sudah di pastikan sipenerima tidak bisa menerima dokumen/paket tersebut pada hari ini. Tidak bisa pula untuk dititip, alias rumah sedang kosong. Ada kisaran ratusan surat dan paket yang mesti ku antar hari ini..Pukul 8 lewat 40 menit semua sudah dimasukkan dalam tas ukuran 20 Kg. menuju parkiran motor bersiap untuk berangkat.

Bekerja sebagai kurir sudah 8 tahun ku jalani, di perusahana ini baru belum genap 1 tahun. Itu pun saya bersama 4 rekan lainnya diajak pindah oleh kepala cabang di perusahaan saat ini, yang juga merupakan kepala cabang di perusahaan kami yang lama.

Mungkin karena kami berlima sudah memiliki pengalaman yang panjang dan track record yang bagus mungkin, makanya hanya kami berlima yang diajak, padahal masih ada 12 orang lagi di perusahaan lama tersebut.

Sebagian daerah Kota Padang sudah hafal dalam kepala, nama jalan, nama gang, letak sebuah kantor, dan mungkin bisa ditanya rumah pak RT daerah ini letaknya dimana mungkin ada yang bisa ku sebutkan saat ini. Termasuk sipenerima yang manis, yang jutek, yang baik hati, yang ada anjing galak depan rumahnya..ku hafal dimana rumahnya dan siapa namanya.

Sebagian besar satpam di daerah pengantaranku pun pasti hafal betul dengan wajahku. Tinggi, tampan, putih. Mungkin orang mengira aku orang berada, karena gaya pakaianku pun tak kalah tanggung. Ya, meski sudah banyak yang pernah mampir dalam hidupku, belum ada yang sesuai bagiku untuk dijadikan istri, sekarang masih menunggu juga sih, sampai suatu saat waktunya tiba.

Daerah kerjaku membentang ke selatan dari kantor sampai pantai terus ke Alang Lawas, Alang Lawas ke Bungus itu menjadi daerah pak Vrima. Sawahan ke UNAND dan Indarung menjadi wilayah pak Hendri. Gunung Pangilun sampai ke Belimbing menjadi bagian kerja dari pak Hari dan dari kantor ke arah utara sampai perbatasan Padang dan Padang Pariaman menjadi bagian dari pak Ihsan. 

Jika anda, orang Padang akan terbayang wilayah kerjaku banyak perkantoran, daerah pantai yang banyak pemukiman padat.

Ketika pengantaran yang alamatnya kantor banyak kejadian diterima oleh satpam namun, satpam lupa menyerahkan pada bagian yang bersangkutan sampai keesokan harinya atau pun berhari-hari, sehingga kantor ku pun sering di telpon dari daerah pengirim kok paket atau dokumennya belum sampai padahal di status sudah ku update langsung setelah di tanda tangan oleh yang bersangkutan, untung sistem perusahaanku canggih sehingga aku tidak perlu ditelpon terus-terusan oleh rekan kerja di kantor.

Ada juga yang rumahnya kosong, ditelpon tidak aktif beberapa kali datang ke rumah selalu gak ada, ditanya tetangga ada pula yang tidak tahu. Ada juga sudah diterima sang anak, tapi anaknya tidak beritahu mamanya, mamanya sudah mencak-mencak pula ke sipengirim, sipengiriman gak mau kalah bentak ke customer service perusahaan. Melalui sistem semua bisa di cek, eh.. ternyata anaknya yang menerima, akhirnya si penerima tersipu malu dan minta maaf.

Dokumen atau paket yang kuantar sekarang ini adalah amanah, yang harus di jaga keamanannya, kondisinya dan masih bagus sampai ketangan penerima, dan tidak hanya itu pastinya sipenerima menginginkan paketnya cepat sampai di tangan mereka.

Itu lah tantanganku, ya bagaimana pun aku masih beryukur masih bisa mendapatkan penghasilan tetap di saat yang lain masih tidak menentu.

Pernah suatu ketika, ku ditelpon si penerima agar mengantarkan paketnya tidak pada alamat di paket atau dokumen, melainkan di cafe yang beliau tunjuk sambil mentraktirku makan siang. Dalam aturan perusahaan atau SOP yang sudah dipatri dalam ingatan ku, selalu ku laksanakan dan ku junjung tinggi dan alhamdulillah belum pernah ku langgar. Akhirnya ku tolak mentah-mentah ajakan yang bersangkutan, apalagi dokumen yang diantarkan adalah kartu kredit yang baru disetujui, kan resikonya sangat tinggi, jika tidak diterima oleh yang bersangkutan, tidak langsung dan tidak ditempat sesuai tertera dalam dokumen tersebut. Aku bisa kena resikonya. 

Jika kartu platinum yang berlimit 40 juta diterima dan aktif oleh orang yang tidak berhak, maka kurir akan menjadi tersangkanya dan mengganti ke bank, padahal gajiku gak seberapalah. Tetap ada resiko disemua pekerjaan.

Yups itulah aku Tardi, Si kurir Pengantar. 

*Kisah yang ditutur oleh ybs



Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.