Amukan Positif Seorang Bule

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah daerah di pesisir pantai. Bukan untuk melihat bule berjemur, bukan melihat nelayan menangkap ikan, bukan melihat orang snorkling, atau pun berselancar. Tujuan ke sana juga bukan untuk liburan, namun untuk menunjukkan sebuah "kejantanan". Waduh bahasanya kian aneh saja.

Yups, beberapa hari sebelumnya. Sebuah laporan masuk dari salah seorang staf di kantor, beliau mendapatkan "jatah" dari seseorang, bukan sebuah pembagian keuntungan, melainkan caci maki, marah, teriakan, hentakkan. Intinya, sebuah "amukan" dari seorang klien. Usut punya usut, ternyata beliau mendapatkan "rezeki" tersebut, akibat dari perbuatan yang tidak beliau kerjakan. Lho kok, sebuah amukan dibilang rezeki? bukan ketipan rezeki, itu "sial" namanya. Kata anak-anak zaman sekarang.

Di pikiran saya dan atasan, setelah mendengar sebab musababnya memang klien ini salah memarahi orang. Dugaan kami waktu itu ternyata meleset untuk sementara waktu, yang bersangkutan menelfon atasan saya dan inti pembicaraanya adalah bahwa dia kesal hak privasi nya dilanggar oleh staf kami di bagian pengantaran. Lho, mana yang benar. Si klien bicara A, sedangkan si staf bicara B. Untunglah saat itu, Hp yang kubawa dalam mobil merekam pembicaraan via Handphone antara atasan ku dengan klien tersebut. Klien tersebut seorang bule yang sudah puluhan tahun bermukim di kota ku ini. Dan kami menganggap sementara memang si staf yang salah memberikan keterangan.

Keesokan harinya, atasan ku langsung memanggil staf yang bersangkutan untuk meminta klarifikasi. Dan diputarlah rekaman pembicaraan dan meminta tanggapan si staf. Setelah memberikan tanggapan, barulah diketahui alur cerita yang sebenarnya. 

Ternyata alur ceritanya yang betul, staf kami di bagian pengantaran ini mengantarkan sebuah dokumen milik si bule. Kegiatan ini baru pertama kali dilakukannya dan langsung bertemu dengan si bule. Dan di sana lah beliau dihajar habis-habisan. 

Beberapa waktu sebelumnya, sebuah dokumen amat sangat rahasia dan sangat penting juga di antar oleh kurir pengantaran dari perusahaan tetangga. Akan tetapi, karena alasan ada anjing di kediaaman si bule, ternyata kurir dari perusahaan tetangga ini tidak mengantarkan pada sipenerima langsung, malah menitip ke tetangga dari si bule. Tetangga ini, ternyata tidak memberikan surat tersebut secara langsung pada si bule, eh..malah dokumen tersebut dibuka dan dibaca isinya. Tidak hanya sebatas membaca isi, malah menyebarkan isi surat tersebut ke tetangga yang lainnya. Walaupun dokumen ini tetap diterima si bule, namun isinya sudah tersebar ke pelosok kampung.  Disitulah akar kemurkaan seorang bule.

Setelah akar penyebab ditemukan, barulah kita mencari solusinya, agar masalah ini tidak berlarut-larut. Staf tersebut diminta menghubungi kurir tetangga tersebut yang kebetulan mereka sering bertemu lantaran daerah pengantaran yang sama. Atasan ku langsung menghubungi yang bersangkutan dan mengajaknya bersama untuk temui bule tersebut. Jika dia tidak bersedia, atasanku pun menyebutkan konsekuensi terburuknya, tidak hanya dipecat dari perusahaannya, yang bersangkutan malah bisa mendekam di hotel prodeo. Mau tak mau, dia pun menyetujui permintaan atasanku. Dikarenakan waktu sudah ditentukan oleh si bule kemaren, menjelang itu kurir pun dan kami pun menjalankan aktifitas rutin terlebih dahulu, kisaran beberapa waktu sebelum waktu yang ditentukan, kami berkumpul disuatu titik untuk menyamakan persepsi dan atur strategi sebelum bertemu dengan si bule secara langsung. Barulah kita berempat menuju ke kediaman si bule bersama dalam satu mobil.

Sekitar hampir 45 menit menuju kekediaman klien tersebut. Disepanjang jalan ku lihat pemandangan yang aduhai menawan. Kanan terhampar lautan biru yang luas, terdapat banyak pulau nan eksotis, kapal-kapal besar bersandar di dermaga. Sebelah kiri perbukitan yang hijau, dengan banyak pepohonan hijau nan rindang, serta susunan pemukiman penduduk disepanjang tepi jalur jalan yang dilalui.

Sampailah kami dikediaman yang dimaksud, memang betul kondisi sedikit mencekam yang diberitahukan sebelumnya oleh kedua orang kurir tersebut. Bangunan tua yang tidak dihuni serta ditumbuhi semak belukar yang merayap sampai ke atap bangunan. Ditambah, anjing besar yang menjaga sang majikan yang selalu di lepas dalam pekarangan, membuat atasan waspada menutup semua kaca jendela mobil. Sampailah di pintu gerbang kediaman, untung salah seorang kepercayaan beliau keluar dari dalam rumah dan meminta kami masuk menuju dalam rumah. Disanalah gonggonan kencang mengaung yang membuat kami ekstra hati-hati, melihat kanan kiri depan belakang siap-siap menangkis serangan anjing besar. Beberapa waktu keluarlah klien yang dimaksud, seorang bule yang sudah fasih bahasa Indonesia dan mungkin juga bahasa Minang.

Setelah perkenalan diri, beliau langsung menceritakan akibat dari perbuatan kurir yang melanggar privasinya. Apa yang telah terjadi dan apa yang akan beliau ambil langkah. Marah, teriakan keras, caci maki, kami berempat hanya mendengar. Ya, 30 menit beliau saja yang bicara. Kami hanya diam membisu dan menampakkan raut wajah yang berempati. Karena tidak ada urusan sama saya, saya hanya memperhatikan dalam diam. Memperhatikan gaya bicara si bule dan gaya bicara atasan saya untuk meluruskan duduk perkara. 

Hal hasil, setelah sekian lama akhirnya si bule paham. Si kurir tetangga akhirnya kena amuk. Untung sudah disarankan sebelumnya pada beliau untuk tidak memotong pembicaraan si bule dan hanya diam seribu bahasa. Setelah puas, mengungkapkan apa yang dirasa, atasan ku pun mengatur alur ritme pembicaraan. Dan mengarahkan pembicaraan pada solusi.

Awalnya si bule tidak mau lagi kurir yang bersangkutan untuk mengantarkan dokumen atau paketnya lagi. Di satu sisi si bule juga tidak mau sang kurir diberhentikan dari pekerjaannya. Dia pun meminta sikurir untuk dipindah tugaskan ke tempat yang jauh dan sulit, untuk mengerti betapa pedihnya menyepelekan sebuah amanah tugas. Namun, ternyata tidak demikian akhirnya.

Sibule memaafkan sang kurir, dan menerima permintaan maafnya dan membolehkan lagi sikurir mengantarkan dokumennya. Namun, kemungkinan kedepan menurutku tidak akan ada dokumen atau paket yang akan beliau antarkan pada si bule. Bagaimana tidak, semua dokumen urgent dan sangat privasi beliau sudah ubah metode pengiriman via email pribadi. Kecil kemungkinan akan terkirim lagi. Dan meskipun ada dokumen yang dikirimkan ke rumah beliau, tentunya juga tidak beliau yang kirimkan, karena tugas perusahaannya sudah diambil alih oleh perusahaanku.

Banyak hal yang dapat ku petik dari kejadiaan ini, betapa lapangnya hati bule tersebut. Rasanya dengan meminta kami menemui beliau, beliau mau mengajarkan betapa berharganya sebuah amanah dan betapa bahayanya apabila amanah tersebut disia-siakan. 

Beliau juga seorang pelatih anjing ternyata. Banyak pengetahuan tentang anjing yang beliau beritahukan pada kami. Lebih khusus lagi tentang anjing penyelamat. Mereka bertugas menyelamatkan nyawa dan mencari orang hilang, tidak menggigit dan sangat kuat, bahkan mereka bisa bermain selama 25 jam nonstop. Bagaimana cara menghadapi anjing galak,  juga beliau ajarkan pada kami.

Alhamdulillah, akhirnya berdamai juga. Beliau pun memberikan nomor Hpnya dan memberikan nomor Hp orang kepercayaannya, jika suatu saat dibutuhkan. Dua setengah jam kami bertemu dengan beliau. Banyak hal yang bisa dipetik, terutama bagi sang kurir tetangga, dan kami bertiga.




   




Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.