Selasa, 16 Desember 2014

Sebuah Kepercayaan yang Mahal


Sudah empat tahun saya bergelut di dunia penjualan. Dalam dunia penjualan, kepercayaan adalah suatu hal yang termahal. Jika seseorang menaruh kepercayaan kepada kita, maka kita harus jaga kepercayaan itu. Seandainya kepercayaan tersebut tidak kita jaga, maka orang tidak akan mau lagi bekerjasama dengan kita.

Ada tiga orang sahabat yang sama bekerja dalam suatu kantor. Suatu ketika, ketiga sahabat tersebut resign satu persatu dari kantor tersebut. Satu bekerja tetap di bidang perbankan dengan bank yang berbeda, satu lagi di bidang financing, dan satu lagi bagian penjualan mobil. Ketiga orang ini sudah lebih dari dua tahun berkenalan. Meskipun tidak lagi dalam satu kantor, mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Ketiganya sudah saling mengenal karakter masing-masing. 

Suatu ketika salah seorang sahabat yang bekerja di perbankan ini, ingin membeli mobil, dan merek mobil yang dibeli adalah mobil yang dijual oleh sahabatnya yang satu lagi. Namun, dia tidak membeli mobil dari temannya tersebut. Malahan dengan orang lain. Sahabatnya pun terkejut. Dan langsung menghubungi teman yang membeli mobil, kenapa tidak melalui dia. Padahal, yang membeli mobil tahu bahwa sahabatnya bekerja di penjualan mobil merek yang dia beli. Dan tiap minggu pun selalu di banjiri sms dan broadcast bbm tentang produk mobil keluaran perusahaannya tersebut.

Ketika itu, sampai berita tersebut ke sahabatnya satu lagi yang bekerja di bagian financing. Bagus, lah tidak membeli dari dia. Aku juga pernah dikibulinya beberapa kali. Banyak referensi yang ku berikan tidak di garapnya dengan baik. Apalagi dia dahulu orangnya kurang bisa di percaya. Dan apabila dia perlu saja, baru menghubungi kita. 

Nah, siapa yang salah. Kepercayaan itu mahal. Apapun bisnis kita, jagalah kepercayaan dari relasi kita tersebut. Jangan pernah diabaikan.

Sehubungan dengan itu, pada hari ini. Aku mendapati sebuah kepercayaan tidak di genggam dengan baik. Ada beberapa orang dalam suatu instansi percayakan uangnya pada sebuah perusahaan asuransi. Namun, sang agen yang bersangkutan tidak memberikan suatu balasan yang baik atas kepercayaan orang padanya. Hal hasil, namanya sudah jelek. Agen asuransi lain pun kena getahnya. Karena orang sudah trauma dengan perlakuan agen tersebut.

Sebelum bekerja di industri asuransi, saya bekerja sebagai marketing di salah satu bank BUMN. Dan instansi tersebut sudah menjadi nasabah saya di bank tempat saya bekerja. Alhamdulillah, ketika saya datang kembali ke instansi tersebut dengan bendera dan seragam yang berbeda, saya di sambut hangat. Saran yang saya berikan diterima dengan sangat baik. Meskipun mereka belum menjadi klien saya, setidaknya saya bisa meyakinkan teman-teman tersebut untuk tidak menutup polisnya dan mempercayakan pengurusan apa pun keperluannya dengan saya. 

Asuransi bukan hanya sekedar bisnis. Asuransi lebih dari itu. Misi yang mulia, menolong orang. Jika kita memberikan pertolongan pada orang, maka Allah juga akan menolong kita. Beberapa jam setelah saya ke instansi tersebut tiba-tiba saja, ada orang yang menghubungi saya dan mempercayakan saya sebagai financial consultant-nya. 




Minggu, 14 Desember 2014

Geseknya Enak, Belakangan Bisa Stres

Masih bicara seputar kartu kredit. Baru Jumat kemaren, penulis di sms oleh teman penulis yang sudah lama kita tidak bertemu. Maksud sms tersebut, yaitu teman penulis masih mengira kalau saya masih sebagai pegawai bank dan beliau minta untuk dibuatkan kartu kredit. Sudah lama tidak bertemu, dan penulis juga ingin menemuinya langsung, maka kami janjian di tempat usahanya bertemu.

Setelah ngobrol tanya kondisi masing-masing, lalu beliau ungkapkan lagi maksud untuk memiliki kartu kredit, dan beliau minta agar saya bisa menolongnya. Ok, saya bilang. Meskipun saya sudah tidak di bank lagi, saya masih ada teman di bank yang bisa membantu. Siapkan saja syarat-syaratnya, tetapi sebelum itu, "apakah kamu tahu cara pemanfaatan kartu kredit?" tanya saya. Lantas beliau menjawab, tidak. Ya ampun..trus darimana kamu tahu tentang kartu kredit? lanjut saya. Dari seminar kartu kredit yang beberapa hari yang lalu di adakan di kota kami, lanjutnya. Oh, Ya, bilang ku.

Saya juga pernah mengikuti seminar tersebut 3 tahun yang lalu. Akan tetapi, itu secara garis besar, bagaimana memanfaatkan kartu kredit untuk menjalankan usaha. Namun, kalau tidak berpandai-pandai dalam melakukannya, maka itu juga sama dengan menggali kuburan mu sendiri. Maka, sebelum kamu punya kartu kredit, pelajarilah dahulu lebih banyak, agar kamu tidak terlilit hutang dan uang hasil jerih payahmu selama ini tidak habis untuk bayar tagihan kartu kredit.

Apa yang aku sampaikan pada temanku jumat yang lalu, terulang pada temanku yang lain pada hari ini. Seharian tadi aku menemani teman kuliahku dahulu yang datang ke kotaku, sebenarnya beliau tinggal di di Padang. Namun, karena beliau dan seluruh keluarganya sudah di Jakarta dan beliau pun kerja di salah satu bank swasta di Jakarta, rumahnya di sini di tinggal kosong saja. Dan aku salah satu teman terdekatnya yang masih di Padang.

Nah, hari ini saya baru tahu dia belum mengerti cara pemanfaatan kartu kredit. Seorang Officer bank saja masih belum mengetahui pemanfaatan kartu kredit, apalagi masyarakat awam. weleh..weleh..Akhirnya, tadi ku buka kelas kartu kredit ke beliau. Ku terangi sejelas-jelasnya, namun yang penting-penting saja dahulu. 

Sebagai pelajaran bagi kita semua, jangan ikut trend saja. Orang punya kartu kredit, kita harus punya juga. Kalau memang butuh, ambil. Namun, pelajari dahulu semua seluk beluknya. Agar kita aman, dan tidak habis gaji untuk membayar tunggakan kartu kredit saja. 

Sekarang, Bank Indonesia dan Asosiasi Kartu Kredit Indonesia membatasi penggunaan kartu kredit bagi pegawai bergaji 3 sampai 10 juta maksimal 2 kartu dari penerbit yang berbeda. Sekali lagi, tinjau ulang keperluan untuk apply-nya, butuh atau tidak butuh bagi anda..