Strategi Merebut Shipment Bagi Ekspedisi Pendatang Baru

Pagi Sobat, sudah tunaikan sholat dan mandi serta sarapan pagi. Mengisi waktu istirahat sejenak sebelum berangkat ke kantor, penulis sempatkan update postingan Blog ini. Banyak ide dan pikiran yang bergentayangan, sayang jika tidak dituliskan.

Sobat, ada beberapa perusahaan ekspedisi yang baru muncul di kota Padang. Jika modal mereka kuat gak masalah, ini ada sebuah ekspedisi baru hadir, sudah langsung berani mengambil shipment COD  Cash On Delivery ) untuk wilayah delivery sampai seluruh kota dan kabupaten se Sumatera Barat, bisa jadi juga mengambil sampai ke Mentawai. Alhasil, ya beberapa waktu berselang tidak ada kiriman itu lagi, yang mirisnya, sang ekspedisi bukannya untung malah buntung, karena harus menutupi kerugian akibat uang COD belum dikembalikan kurir atau agen mereka.

SAP Express juga mempunyai pengalaman yang sama. Ini maaf cakap, kesalahan dari sebuah egoisme semata. Sudah jelas dahulu, jaringan kita belum terbentuk sempurna, sudah mengambil shipment yang boleh dikatakan SLAnya sangat ketat. Jangankan Ekspedisi baru, JNT dan JNE pun juga pernah mengalami pengalaman kebobolan di uang COD. Ya, itulah industri pengiriman yang semuanya 100 bergantung pada sumber daya manusianya. 

Harusnya ketika semua ekspedisi baru berdiri, yang harus di fokuskan adalah peningkatan omset dan sekaligus pengembangan jaringan permanen. Ingat, tidak hanya jaringan semata, akan tetapi jaringan permanen. Jaringan permanen di sini, penulis maksudkan adalah cabang langsung yang gaji kurir dan pegawai lainnya langsung dibayar oleh kantor pusat ekspedisi. Maaf yang ada selama ini banyak yang ada adalah agen otonom, bahkan agen handling. Kelemahannya, ya tentu saja standar kerja pasti tidak akan sama di seluruh Indonesia.

Di awal membuka cabang di kota Padang. SAP Express mengambil shipment dari seluruh jenis usaha yang ada. Berkaca dari itu, maka dapat penulis simpulkan, "Ketika kita baru berdiri dan baru mengembangkan jaringan, jangan dahulu mengarap shipment online." Shipment online yang pernulis maksudkan kiriman barang hasil transaksi jualan online. Ini adalah kiriman yang paling super ketat SLA, kirim hari ini harus sampai besok. 

Nah, bagi ekspedisi yang sudah berdiri dan lengkap dengan kantor cabang di setiap daerah dan armadanya jalan langsung setiap hari, ini diambil pun tidak akan menjadi kendala. Namun, bagi perusahaan yang baru yang baru ada satu kantor cabang dan belum punya jaringan sendiri di daerah sebaiknya ini jangan di ambil dahulu. Resikonya, kiriman akan telat dan nama brand bisa kena di mata customer. Terus apa shipment yang harus diambil?

Berkaca dari sebuah ekspedisi yang bernama KGP/ Kerta Gaya Pusaka. Ekspedisi ini di Kota Padang hanya mengambil dokumen/paket dari perkantoran yang paling banyak, seperti kantor perbankan, asuransi, leasing dan sebagainya. Orang awam pasti tidak akan banyak yang mengenal dengan KGP. Adapun orang yang kenal, palingan staf dari perusahaan yang melakukan pengiriman dengan mereka.
Meskipun jarang di kenal orang banyak, namun kita jangan meremehkan omset dari perusahaan ekspedisi yang satu ini. Kenapa? Satu kantor yang pernah penulis akuisisi dari klien KGP, bisa beromset sebulan sampai 4 juta per bulan. Rerata tiap kantor bisa 1 juta per bulan. Berapa banyak kantor di kota Padang? rerata juga kantor tersebut lebih banyak menggunakan KGP dibandingkan Tiki atau pun JNE bahkan POS.

Soal harga, mungkin bisa dibilang hampir sama dengan POS dan sama dengan TIKI, namun di bawah JNE. Ketika ditanya kantor mereka di daerah kota/kab lainnya dalam SUMBAR, pasti banyak orang tidak mengetahuinya, maklum saja kebanyakan kantor mereka tidak memiliki plank dan hanya berukuran beberapa meter saja. Namun, meskipun begitu kiriman dari kantor kecil seperti itu misalkan di Bukittinggi memiliki loadment yang lumayan juga lho banyaknya.

Kita anggap harga KGP dan Tiki sama, ketika TIKI membawa barang sekarung 20 kilo, kita anggap isi karung tersebut 20 paket dan 1 paket biaya kirimnya Rp. 10.000. Maka, nilai kiriman Tiki untuk 1 karung adalah Rp. 200.000. Ketika KGP mengirim yang mungkin berat karungnya hanya 6 Kg, namun isinya terdiri dari 40 dokumen saja misalnya, maka nilai kiriman KGP ini bisa mencapai 40x10000 = Rp. 400.000. Kita anggap kirimannya ke Jakarta dengan modal 6000 misalnya. Maka biaya yang harus dikeluarkan TIKI dan KGP adalah Rp. 60.000, dengan keterangan 1 SMU pesawat minimal 10 Kg. Nah, mari kita hitung berapa keuntungan dari KGP ? Rp. 400.000 dikurangi Rp. 60.000 misalnya, hasilnya akan menjadi Rp. 340.000. 

Kenapa hitungannya jadi seperti di atas? kalau perkantoran, biasanya kiriman mereka adalah dokumen. Sedangkan Tiki, JNE, dan JNT misalnya lebih identik dengan paket online. Sedangkan POS sekalipun, orang akan beranggapan banyak kirimannya adalah surat, sama juga dengan KGP.

Belajar dari KGP dan POS. Model pengembangan SAP Express ke seluruh daerah Sumatera Barat juga seperti itu. Maksudnya? SAP Express saat ini banyak mengambil shipment, bahkan merebut loadment perkantoran yang selama ini banyak dikuasai oleh KGP, Pos, bahkan ada juga dengan Tiki dan JNE. Kiriman perkantoran, biasanya hanya banyak tertuju untuk dalam Sumatera Barat dan Jakarta yang lebih dominan.

Ketika loadment shipment bertambah, maka omset pun ikut bertambah. Persaingan untuk ekspedisi perkantoran tidak lah terlalu seketat kiriman online. Apalagi sistem KGP dan POS masih belum secanggih SAP Express, terutama sistem trace and Trackingnya. 

Ketika satu perkantoran berhasil di rebut oleh SAP Express dan banyak kirimannya ke Pariaman misalnya. Maka, mau tidak mau kurir di Pariaman juga sudah harus ada. Ada saja satu orang kurir tetap untuk kota Pariaman saja sudah cukup. Jika loadment shipment nya masuk lebih dari 400 dokumen/resi per bulan, maka di sana butuh tambahan SDM kurir pengantaran. 

Kenyataannya di awal berdiri, loadment yang masuk ke daerah itu belum lah banyak. Maka, kurir pengantaran di kota Pariaman, kita maksimalkan juga untuk kurir pick up. Sales dari Padang langsung ke Pariaman mencari klien di Pariaman. Alhamdulillah dapat, maka kurir di Pariaman waktu itu mendapatkan dua pekerjaan, delivery paket yang masuk ke Pariaman dan mengambil kiriman dari klien yang di Pariaman untuk diteruskan ke Padang. Nanti di Padang yang akan input dan bantu delivery, jika kirimannya untuk daerah Pariaman dan Padang Pariaman, maka orang kantor di Padang akan kembalikan lagi dokumen tersebut ke kurir Pariaman yang tadi dan kurir di Padang Pariaman.

Kunci sistem ini adalah kegigihan sales, kemampuan kurir tetap yang di rekrut serta kemampuan staf operasional dalam menginput dan mendelivery segera. Kalau begitu paket/dokumennya telat dong. Penulis yakinkan tidak. Lho kok bisa?

Dalam dunia pengiriman/ekspedisi, paket yang dijemput hari ini adalah H0, masih belum masuk hitungan. Di Pariaman dijemput jam 2 langsung kirim ke Padang, sampai di Padang jam 4 dan langsung di input, malam atau esok pagi diberangkatkan lagi ke Pariaman, untuk dokumen tujuan Pariaman. Esok pagi kurir di Pariaman sudah bisa melakukan delivery. Jika kiriman ke Jakarta esok pun juga bisa sudah sampai di Jakarta. itu di katakan H+1.

Begitu juga dengan daerah lainnya di Sumatera Barat, makanya SAP Express saat ini dengan hanya 4 kantor penjualan, sudah bisa melakukan pengambilan paket/dokumen sampai ke Mentawai. Biaya irit dan tidak butuh modal besar seperti JNT.

Hanya itu saja? yup. Dengan sistem seperti ini dan target market yang seperti ini, SAP Express Padang tahun 2015 yang hanya beranggotakan kurang dari 10 orang, dan pada Februari 2018 ini sudah lebih dari 70 orang karyawan dengan neraca keuangan cabang sudah surplus sejak akhir tahun 2016.

Kantor pusat SAP Express di Jakarta tidak perlu repot bantu pengembangan wilayah. Dari satu kantor saja di Padang sudah bisa mengembangkan kantor penjualan di daerah lainnya dalam Sumatera Barat. Tidak perlu modal besar untuk pengembangkan perusahaan di Sumatera Barat dan imbal hasilnya pun gak sampai 2 tahun sudah untung. Lebih produktif dan InsyaAllah akan selalu Grow..

Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.