Sandiwara Langit

Ketika lelah menghampiri, tubuh tidak akan bisa tertidur pulas secara langsung. Pasti akan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa tertidur. Ya, dari pada bermacet ria keluar malam bersama teman merayakan tahun baru, dan bagiku pun tidak ada mengenal istilah perayaan tahun baru. Lebih baik searching internet membaca yang patut di baca, bercengkrama dengan Ayah, Ibu dan kedua adik, ah..minus adik ipar yang tidak bisa merapat pula ke Padang akhir tahun ini, karena harus piket dinas di sarolangun. Masih banyak buku yang belum selesai di baca, masih banyak pula, ide yang belum di tuliskan..Jalan-jalan seru juga, tapi jika begini kondisi kemacetan, sama juga enggak, ngabisin waktu di jalan. Mending jalan-jalan di saat tidak puncaknya, hemat ongkos dan waktu lebih maksimal. Ini juga saran dari perencana keuangan Prita Gozhi Ya, keseruan setiap orang berbeda-beda.

Beberapa hari yang lalu berkunjung ke tempat klien, beliau jualan buku. Sebenarnya mau membeli buku yang sudah ditentukan, sayang stok sedang kosong. Di sarankan oleh klien tersebut untuk membeli buku "Sandiwara Langit". Ini bagus bg, karena bercerita tentang penguasaha. Ku kira di lihat dari sampul seperti non fiksi, pas di baca seperti cerita novel ternyata.

Buku ini merupakan kisah nyata yang di tuliskan oleh Abu Umar Basyier dan diterbitkan oleh Shafa Publika. Ditanganku saat ini buku tersebut sudah naik cetak 12 kali yang cetakan terakhirnya pada September 2015.

Kisah ini bercerita tentang Rizqaan dan Halimah. Rizqan merupakan seorang pemuda yang baru usianya 18 tahun, baru lulus SMA. Meskipun begitu dia berbeda dengan yang lain dari seusianya. Di usianya ini, dia ingin segera mengenapkan Diinnya. Pada ustadznya, disampaikanlah maksud tersebut, lalu sang Ustad bertanya apakah sudah ada calon. Rizqaan mengakui menyukai seorang gadis yang berusia setahun di bawahnya, yang bernama Halimah. Menurutnya, Halimah adalah wanita sholehah yang Rizqaan yakini merupakan istri dan Ibu yang baik buat anak-anaknya kelak.

Orang tua Halimah sendiri merupakan orang yang berada/kaya, berbeda dari keadaan orang tua Rizqaan. Halimah pun setuju diperistri oleh Rizqaan, namun Ayah Halimah memberikan syarat ketat kepada Rizqaan, yaitu harus bisa menghidupi Halimah dengan penhidupan yang layak dalam jangka waktu 10 tahun, Jika tidak maka Rizqaan diminta secara ikhlas menceraikan Halimah.

Setelah menikah, Rizqaan banting tulang untuk menghidupi istrinya dengan berjualan roti, suka dan duka Rizqaan jalani dengan sabar dan selalu di semangati oleh Halimah yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Mereka benar-benar memulai dari nol. Karena kesungguhan Rizqaan mencari nafkah dan kepintaran Halimah dalam menghemat pengeluaran keluarga, secara bertahap Rizqaan dan Halimah menapaki tangga ke kehidupan yang lebih baik, ditambah setelah dikaruniai seorang anak nan lucu usaha Rizqaan semakin maju, sampai dia mempunyai usaha roti sendiri dengan penjualan yang luar biasa, Pabrik roti yang luas dengan banyak pekerja, rumah yang lapang dengan 4 kamar tidur ditambah sebuah mobil yang bisa dibelinya secara cash. Sampai kedua orang tua Rizqaan diminta untuk tinggal bersama Rizqaan. Ya bisa disebut dalam kondisi yang berada mereka ketika itu.

Sepuluh tahun kurang 1 hari, sebuah cobaan besar menimpa keluar tersebut. Pabrik roti Rizqaan yang satu komplek dengan rumah terbakar sudah, dalam kejadiaan tersebut tidak hanya Pabrik dan rumah, serta mobil yang hangus, Ayah Rizqaan sendiri tidak sempat tertolong dan meninggal di tempat. Sedangkan Ibu Rizqaan terluka parah, Alhamdulillah nyawa beliau masih bisa diselamatkan.

Setelah kejadian tersebut, pas waktu 10 tahun sesuai perjanjian Rizqaan dengan Ayah Halimah, Ayahnya datang ke rumah sakit. Mereka mengira hanya untuk membesuk saja, tetapi ternyata menagih perjanjian yang mereka sepakati 10 tahun silam. Betapa shoknya Rizqaan sudah tertimpa musibah, bertambah pula cobaan yang harus dihadapi. Karena usaha Rizqaan semuanya habis, maka Ayah Halimah menganggap Rizqaan seperti semula saat dia menikahi Halimah, yang tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya. Dan menuntut Rizqaan untuk menceraikan Halimah. Dengan besar hati dan kepatuhan Halimah pada suaminya, akhirnya Rizqaan Menalak Halimah dengan cara yang luar biasa indahnya.

"Dihadapan Allah Swt. atas dasar ketaatan kita kepadaNya. Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita di syurga kelak dalam sejuta keindahan yang melebihi segala yang pernah kita rasakan berdua. Atas dasar cinta kasih kita yang suci. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Allah yang mengetahuinya. Saya menalakmu adinda."

Saat kejadian itu sebenarnya Halimah sedang mengandung anak kedua mereka. Setelah itu, Ayahnya Halimah ingin menikahkan anaknya tersebut dengan seorang partnet bisnisnya yang bernama Budiman. Itu direncanakan habis masa idah Halimah berakhir, Menjelang itu, sangat gencarnya Budiman mendekati Halimah dan bujuk rayu Ayahnya agar halimah menerima Budiman.

Sembari Itu, Setelah kondisi Ibunya membaik, Rizqaan memulai lagi usahanya, dengan semangat yang membara dan keredaan serta kesabaran yang luar biasa. Akhirnya usahanya kembali bergeliat, meski belum sebesar seperti sedia kala.

Ketika Budiman mau melamar Halimah, Halimah ternyata terserang penyakit leukimia. Sehingga Budiman membatalkan Niat untuk menikahi Halimah dan membuat Ayah halimah dan saudaranya Asyraf termenung dan batal mendapatkan adik ipar yang kaya raya.

Akhirnya Ayah dan Ibu Halimah mengantarkan kembali Halimah kepada Rizqaan dan menikahi mereka kembali. Akhirnya mereka kembali bersama dan ditambah kebahagiaan dengan lahirnya seorang putri cantik yang mirip dengan wajah Halimah. Bapak dan Ibu Halimah sekarang sudah rajin sholat. Hari-hari dilalui dengan penuh kebahagiaan.

Sampai kondisi Halimah sudah mengkhawatirkan, akhirnya Halimah meninggal dunia di samping suami tercinta. Sang Ibu menjerit dan Ayah Halimah menangis. Rizqaan pun tak kuasa menahan kucuran air mata yang mengalir deras.

Ternyata yang membakar usaha Rizqaan adalah Kakak kandung Halimah yang bernama Asyraf yang juga terjerat perdagangan obat bius. Asyraf melakukan itu, agar Halimah bercerai dengan Rizqaan dan dinikahi oleh orang kaya yang bernama Budiman.

Sungguh, kisah nyata yang langsung ditulis dari yang mengalaminya kejadian ini dengan kesaksian ustdznya yang minta tidak dicantumkan nama asli mereka semuanya. Kisah hidup yang mengajarkan tentang kesabaran dalam menjalani problematika kehidupan yang bisa mengoyahkan iman.

Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.