Gayung Pun Bersambut

Hai Sobat, sudah lama bolong posting. Ya, beberapa hari ini speedy di rumah ngadat, yang membuat jadwal posting di blog lumayan terganggung. Hm... tak apalah aku juga mungkin belum berpindah ke lain hati, tetap setia bersamamu telkom. Meskipun begitu kepuasan konsumen harus tetap di utamakan ya. Sayang juga telah melepas saham telkom terlalu cepat, sekarang udah terbang lagi. 

Rasanya udah ratusan klien di datangi untuk sebuah penawaran. Situasinya seperti kondisi di film Bill Porter yang mengetuk pintu dari rumah ke rumah, cuma bedanya ini dari satu perusahaan ke perusahaan lannya. Wah, kalo pindah ke Jakarta mungkin bonus ku udah puluhan juta nih. Capek, di badan iya. Namun, di jiwa tak ada rasa letih sedikit pun. Sebenarnya penasaran juga, dari setiap pintu yang di ketuk, entah siapa di dalamnya..siapa yang tahu? Namun sebuah asa yang mengangkasa untuk menemukan suatu bentuk kepuasan batin, jika sudah ada kata "deal" di sana. Yups, sebuah closingan.

Ada sebuah perusahaan yang deal karena aku hanya mendengarkan saja. Ku biarkan Bapak tersebut mengemukakan semua unek-unek amarahnya yang terpendam. Beliau seperti sedang memarahi diriku..hehe. Ya kubiarkan saja. Rasanya 90 persen pembicaraan ya dari beliau saja, tiada henti. Sesekali aku hanya bilang, o..begitu ya pak. Saya kasihan melihat Bapak diperlakukan seperti itu. Apa yang bisa saya bantu y pak? Ya, semoga saya dan teman-teman bisa memberikan pelayanan seperti yang Bapak dan Perusahaan harapkan kepada kami. Lumayan curhat 30 menit. Aku memperhatikan wajah beliau dengan sangat, ekspresi dari raut wajahku pun memperlihatkan empati kepadanya.   

Setelah mulai reda, lalu ku lanjutkan dengan penjelasan mengenai mekanisme dan pelayanan serta apa yang bisa beliau dapatkan, begitu juga dengan tarif yang akan beliau bayarkan. Tidak sampai  5 menit ku bercerita. Lalu, beliau memperlihatkan keseriusan sepertinya menerima penawaranku. Namun, mungkin karena masih ada orang yang berpangkat di atas beliau, jadi beliau mungkin juga mau menjelaskan dahulu kepada atasannya sebagai pengambil keputusan dalam kantor tersebut.

Berselang satu bulan ku menunggu akan sebuah jawaban. Jawaban yang mungkin iya atau pun tidak, namun tiada kata pesimis yang melekat di benak ku. Aku hanya menyampaikan, bahwa kami mau membantu bapak dan meringankan tugas bapak. Jika bapak berkenan Alhamdulillah, jika tidak ya juga tidak mengapa. Keputusan ada di tangan Bapak. Tentunya Bapak mau yang terbaik bukan? Setidaknya beliau juga menampakkan sedikit raut wajah kepercayaan padaku. Ya, enggak di gantung tak bertali lah. 

Sembari itu, perusahaan lain ku jajaki jua. Barulah beberapa hari yang lalu, beliau langsung menghubungi kantor ku. Customer service yang baru bekerja 2 bulan yang mengangkat telpon dan memberikan gagang telpon padaku bahwa Bapak A dari perusahaan ini, mau bicara dengan ku. Ya, kusambut dengan senyum hangat sebelum memulai pembicaraan dengan si Bapak di ujung telepon.

Sebuah ungkapan yang beliau tanamkan dalam pembicaraan tersebut, untuk meyakinkan beliau akan pelayanan yang coba kami berikan. Aku pun meyakinkannya sepenuh hati, bahwa apa yang beliau inginkan dapat kami wujudkan. Komitmen tinggi ku tunjukkan. Akhirnya, gayung pun bersambut. Hari ini kami di telpon lagi, untuk memberitahukan bahwa perusahaan beliau mau bekerjasama dengan perusahaan ku. Alhamdulillah, betapa lega dan puasnya terasa. Iya, meskipun begitu ini sebuah amanah dan tantangan baru akan menjaga sebuah kepercayaan yang baru terjalin, dan mempertahankannya selama-lamanya. 

Memang ketika sebuah penawaran dan orang baru yang datang, tidak lantas langsung bisa dapat kepercayaan. Itu semua butuh proses, membuat orang merasa nyaman pada pertemuan pertama itu sebuah tantangan yang luar biasa. Bisa jadi beberapa kali bertemu atau pun berkomunikasi baru lah kenyamanan itu tercipta. Namun, sama-sama saling membuka diri untuk kepentingan bersama. Jikalau beliau tidak mau membuka diri dan tidak mau menerima kedatanganku yang pertama, tentunya beliau tidak akan mendapatkan informasi dan penjelasan penawaran dariku. Toh, setidaknya jika pun tidak mau nantinya memakai jasa kami tidak mengapa juga, setidaknya beliau pun mendapatkan sebuah informasi bahwa ada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ini, manatahu juga beliau suatu saat butuh, atau sanak family, karib kerabatnya juga butuh. Siapa yang tahu?




Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.