Memori Sekuntum Kenangan

Hai, sobat..

Letih sangat terasa..tak kuat menahan hawa dingin yang menyelimuti sekujur tubuh. Secangkir kopi panas, pun tak mampu menahan dingin dan rasa kantuk yang menghadang. Namun, setelah membaca sebuah postingan tulisan seseorang membuat diri tak mau kalah semangat darinya.  Berganti rasa gelora di dalam dada untuk dapat menuliskan sebuah postingan ini. Tulisan tersebut, mampu menghilangkan semuanya itu, walaupun menceritakan kisah penulisnya sendiri dan tak ada sangkut pautnya dengan kondisiku saat ini.

Judul postingan kali ini di sadur dan edit dari lagu Malaysia Spoon yang berjudul Memori Sekuntum Bunga.

Dimalam sepi ini, setelah mengantarkan adik ipar, rentetan ide bergentayangan untuk menuliskan tulisan flashback seminggu ini.

Telpon Kejutan yang Tak Pernah di Harapkan Terjadi
Senin, 9 November 2015

Sebenarnya tidak ada yang tampak aneh di pagi itu. Rutinitas seperti biasanya. Hanya saja, di rumah sudah ada beberapa orang family yang datang dan menginap untuk siap membantu terselenggaranya acara pernikahan adik pertamaku Yolla.

Pekerjaan kantor hari itu sungguh banyak, permintaan pick up yang tinggi membuat ku telat sampai di rumah. Walaupun bisa saja pulang cepat, tapi tak kuasa meninggalkan teman kantor berkutat dengan kerjaan sementara saya pulang lebih awal.

Memang disore itu ada perasaan yang agak ganjil, sedikit cemas menyelinap dalam relung jiwa. Entah, tak tahu sebab dan apa yang dicemaskan.

Selepas tiba di rumah, langsung mengejar makan malam yang sekaligus makan siang. Memang lapar siang itu, namun lebih memilih untuk pick up barang karena waktu sudah mepet dan banyaknya permintaan. Setelah makan dan sholat, rasanya ada sosok seseorang yang tidak kutemui setelah pulang kerja tadi, yaitu Ibuku. Kutanya pada Ayah dan Oom atau paman, mana Mama? kata Oom mama ngantar Rendi yang mau balik ke Jambi. Apa ? sahutku, mama pergi mengantar Rendi sendiri? Kagak kebalik sahutku seketika. Ketika ditanya kenapa tidak Papa yang ngantar, Oom bilang bahwa Ayahku sedang buka puasa tadi, gak terkejar rasanya dan bisa ditinggal bus pula nanti. Trus kenapa tidak Oom yang ngantar, beliau pun berkilah tidak bisa bawa motor biasa, dia hanya bisa bawa motor matic. Ya udah tidak mengapa sahutku. Kemudian ada hal yang nganjil yang kurasa lagi. Kenapa Mama tidak bawa motornya dan memilih membawa motor sepupu? padahal beliaukan belum pernah membawa motor tersebut. Lalu Ayah menimpali, bahwa motor itu sudah full bensin dan lampu depan lebih terang. Disana lah terbesir hatiku, apa aman Ibu membawa motor tersebut yang baru pertama kali dia membawa motor ini, walau motor yang biasa Ibu bawa sama tipenya.

Rasa cemas tetap ada, Ibu belum pulang juga. Biasanya tidak selama ini mengantarkan ke sana. Apalagi hampir tiap bulan kami melakukan hal yang sama, yaitu mengantar adik untuk balik lagi ke Jambi. Sambil asyik bercengkrama dengan Ayah dan lainnya. Ayah mendapat telpon dari nomor tidak dikenal. Sesosok pria ternyata, beliau memberitahu bahwa Ibu kecelakaan. Astagfirullah, kata Ayah, sambil HP yang dipegangnya terlepas dari genggaman dan mati komunikasi seketika itu juga. Mendengar itu semua kita panik, keluarga semua panik. Ayah seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Aku, langsung naik ke kamar dan ambil jaket serta dompet dan handphone. Kunci motor ku ambil dan langsung mengeluarkan motor dan tancap gas. Oom pun kebetulan sudah berpakaian rapi pula, tinggal ambil helm dan gonceng dengan ku.

Pikirku ketika itu, aku harus telusuri jalanan yang biasa dilalui Ibu ketika pulang mengantar dari pangkalan bis. Aku sudah bisa merasakan dimana kira kejadian ini tejadi. Sebelum sampai ke titik yang kukira tempat kejadian, aku terpikir lebih baik ku hubungi nomor Ibu, manatahu ada orang lain yang angkat dan memberitahukan ku dimana dan bagaimana kondisi Ibu saat ini.

Benar dugaan, ternyata yang mengangkat telpon adalah seorang pria. Langsung ku tanya Ibu dan beliau beritahu bahwa Ibu sudah di IGD Rumah Sakit Semen Padang By Pass. Langsung saja ku putar haluan menuju ke arah sana, sambil mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, aku pun sempat memencet nomor telp Ayah dan ngobrol untuk beritahukan bahwa posisi Ibu.

Selepasnya sampai di halaman IGD RS Semen Padang, aku langsung bertanya apa ada seorang Ibu yang baru masuk ke IGD karena kecelakaan? betul kata security yang ada di sana, beliau menunjukkan motor dan HP Ibu, benarkah ini milik beliau. Iya kataku, kemudian security menyuruhku masuk dan mengarahkan ke tempat Ibu ku berada.

Alhamdulillah, nyawa Ibu selamat. Ibu menderita luka sobek 6 cm di atas alis mata sebelah kanan, lecet di kedua kaki dan tangan kanan, dan ternyata...Bahu kanan Ibu pun patah. Beliau menangis sambil mengucap doa dan istighfar. Aku pun tak kuasa melihat Ibu seperti itu. ternyata baru beberapa menit Ibu sampai di IGD, dan terlihat perawat sedang membersihkan luka Ibu.

Aku hanya bisa bisikkan ketelinga beliau yang sabar ya Ma...sambil mengusap dan membersihkan wajahnya. Sambil mengucapkan lafaz doa agar Ibuku bisa sembuh.  Beberapa menit kemudian, Ayah pun datang dan menenangkan Ibu. Baru setelah itu aku daftarkan Ibu pada bagian Administrasi rumah sakit, dan om mengamankan motor dan barang bawaan Ibu termasuk dompet dan uang. Alhamdulillah semua aman. Beruntung Ibu di tolong oleh pegawai rumah sakit yang kebetulan lewat dekat tempat kejadian tersebut.

Ini kejadian yang sering Ibuku alami, jatuh beberapa kali dari sepeda motor dan ini pun yang paling parah. Iba hati melihat penderitaan yang Ibu alami.

Setelah di cek oleh dokter jaga dan di scan serta dibicarakan dengan dokter tulang.Keputusannya Ibuku harus dioperasi malam itu juga, karena kalau dibiarkan Ibu tidak akan tahan sakitnya dan bisa menjadi tumor kedepannya kalau tidak segera di operasi. Dokter sudah menentukan jadwal, sambil menunggu hasil labor, Ibu di inpus dan diberikan obat penahan rasa sakit, namun itu semua tidak mempan, Ibu tetap menangis dan meraung.

Sanak family akhirnya berhamburan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu. Kami bergantian menenangkan Ibu..sampai akhirnya pukul 23.00 Wib, Ibu di pindahkan ke ruangan Inap dan baru 30 menit setelahnya di pindahkan lagi ke ruang operasi. Akhirnya Ibu ku di operasi pada pukul 12.00 Wib. Kami pun menunggu di ruang tunggu operasi. Operasi pun selesai pukul 03.00 Wib. Dan dipindahkan ke ruangan inap tempat tadi sebelum ke ruang operasi. Ibu tampak tidur karena dibius full. Ayah, Aku, Yana dan Ifo sepupuku yang tidur menemani Ibu di kamar ruang rawat Inap.

Sungguh hari yang tak kuasa ku melihat Ibu dalam kondisi yang seperti ini..

Semuanya Bergantung Pada Ayah
Selasa, 10 November 2015

Pesta pernikahan Yolla tinggal 5 hari lagi, undangan masih banyak yang belum tersebar. Biasanya Ibu dan Ayah yang langsung mengantarkan undangan dan mengurus persiapan. Aku dan yang lain membantu dalalm urusan operasional di rumah. Untung Ayah ku orangnya cekatan, dalam sehari segala persiapan adminsitrasi yang belum rampung diselesaikan, izin keramaian pesta ke polsek dan lainnya. Disanalah terfosir seluruh tenaga Ayah. Hujan dan panas di tempuh jua. Kegiatan ini dilakukan sambil menemani Ibu di rumah sakit. Walau pun adik dan family yang lebih intens di rumah sakit.

Back to Home
Jumat, 13 November 2015

Pesta tinggal waktu sehari, sebelumnya Ibu pun sudah meminta pertimbangan dokter apakah boleh pulang atau tidak. Melihat kondisi Ibu yang semakin membaik, dokter pun memberikan izin Ibu diperbolehkan pulang. Ayah, Om dan Tante membantu kepulangan Ibu dari rumah sakit, sedangkan aku mengurus administrasi dan sebagainya. Setelah semua selesai, Ibu meninggalkan rumah sakit dan pulang. Pukul 10.00 Wib, akhirnya Ibu sampai di rumah dan istirahat. Ayah dan keluarga pun kembali beraktifitas untuk mempersiapkan pesta pernikahan, sementara aku harus kembali ke kantor dalam kondisi yang sedikit capek dan ngantuk sangat serta bad mood, karena aku salah mengerjakan pekerjaan kantor sebelumnya.

Dua Kali Harus ke IGD
Sabtu, 14 November 2015

Sejak Kamis Ayah berada dalam kondisi yang kurang sehat, sejak jumat malam Ayah lebih banyak istirahat. Sabtu pagi kondisi Ayah semakin memburuk, Obat yang didapat sebelumnya dari pemeriksaan di klinik harus membuat Ayah meminumnya. Waktu itu, aku masih tertidur, karena habis bergadang malamnya mengamankan motor, tenda dan segala perlengkapan pesta. Sekitar pukul sembilan lewat aku dikejutkan oleh adik dan tante, memintaku turun cepat menuju kamar Ayah. Aku pun segera terbangun dan berlari menuju kamar Ayah. Ketika ku masuk dan lihat Ayah dalam kondisi yang menggigil sekujur tubuh, langsung saja om suami tante meminta Bg Reno sopirnya untuk menyalakan mobil dan aku berlari ke atas menuju kamar mengambil dompet dan jaket serta HP bersiap melarikan Ayah ke IGD Rumah Sakit Semen Padang. Karena Rumah sakit Semen Padang, letaknya paling dekat dari rumahku.

Sesampainya di IGD Ayah diperiksa dan muntah beberapa kali. Akhirnya dokter memberinya suntik dan beliau pun sudah kembali tenang. Setelah ku mendaftarkan Ayah, aku pun membelikan teh hangat, dan roti untuk Ayah. Rasanya sejak semalam Ayah belum makan. Tetap saja Ayah tidak memakannya dan hanya meminum seceguk air putih panas dan teh manis panas. Roti yang kubeli tidak termakan.

Dokter pun menyatakan kemungkinan faktor kelelahan. Juga dinyatakan rawat jalan, karena menunggu hasil tes labor darah Ayah. Kemungkinan butuh waktu 3 hari ke depan untuk mengetahui hasilnya dan jenis penyakit yang Ayah derita. Sembari itu Ayah diperolehkan pulang dan diberikan beberapa Obat dan vitamin. Ayah pun kami bawa pulang setelah itu.

Menjadi Wali Nikah
Sabtu, 14 November 2015

Sewaktu di IGD Ayah mengigil sangat. Aku mencoba memegang erat tangan beliau dan mengosok tangannya agar terasa sedikit hangat. Ketika itu, kecemasan yang paling dalam ku rasa, seakan Ayah mau pergi meninggalkan ku selamanya. Ku selalu perhatikan mata dan kerongkongan Ayah..Sedih ku rasakan.. Aku selalu ajak Ayah bicara, untuk memastikan kondisinya baik.

Genggaman Ayah semakin kuat, aku semakin cemas. Waktu itu menunjukkan pukul 11 siang. Sembari ku membisikkan dan mengajak Ayah untuk terus bicara, Ayah bilang padaku, "Riky, gantikan Ayah sebagai Wali nikah Yolla". "Riky pasti bisa," lanjut Ayah. Dan aku pun semakin cemas. Pa, biasa ku memanggil beliau. Papa akan sehat, waktu masih lama, padahal akad nikah dijadwalkan pukul 13.30 Wib.

Alhamdulillah kondisi Ayah membaik, namun dokter menyarankan agar Ayah istirahat total. Setelah merembuk dengan keluarga akhirnya kegiatan akad nikah tetap di Mesjid dan aku sebagai wali. Sedangkan Ayah, dibiarkan istirahat di kamar beliau.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wib, aku pun bergegas mandi, karena paginya belum sempat mandi. Rencana sebelumnya menggunakan kemeja lengan panjang, pakai dasi dan jas hitam karena niat hanya melihat dan memotret. Ditunjuk menjadi wali nikah, Aku pun mengenakan batik dan peci hitam karena aku orang yang mudah mengeluarkan keringat, ku pilihlah menggunakan batik legan panjang, karena dingin dan nyaman. Ku yakin karena beban berat sedang berada di pundakku saat itu, tentu keringatku pasti akan mengucur deras.

Azan Zuhur pun berkumandang, segera ku menuju Mesjid untuk sholat Zuhur. Saat berdoa ku memohon sangat agar aku dimudahkan dan acara lancar selalu. Selepas sholat, aku segera kembali pulang untuk makan sedikit, menganjal perut yang sangat lapar, karena belum sempat sarapan pagi. Dapat telpon dari calon mempelai bahwa dia dan keluarga sudah berada di Mesjid, aku pun segera bergegas menyelesaikan makan siang. Sebelumnya tak lupa kepala KUA Padang Timur ku telepon ulang untuk mengingatkan beliau. Baru lansung menuju Mesjid Darussakinah tempat Akad Nikah dilangsungkan.

Sesampainya di Mesjid sudah ramai menanti. Kapada hadirin ku sampaikan bahwa Ayahku tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan yang drop. Setelah kedua keluarga berkumpul dan diarahkan oleh MC akad nikah, barulah Kepala KUA hadir, dan kusampaikan juga tentang kondisi Ayah, dan beliau bertanya, "Apakah sudah ada Ayah secara lisan memberikan izin?" lantas kujawab dengan mantap. "Sudah Pak. " Jantung ku bergetar kencang..

Ini pengalaman pertama sebagai peserta Akad Nikah, bukan sebagai mempelai pria, tetapi menjadi Wali dari mempelai perempuan. Sungguh,..terasa gimana disaat itu.

Singkat cerita, setelah di arahkan dan di latih tiga kali ucapan dan satu kali tes tanpa tertulis, Akhirnya, Alhamdulillah aku dan adik iparku pun satu kali ucapan lancar mengucapkan Ijab Qabul. " Wahai Septri Hazano, aku nikahkan adik kandungku Yolla Noverina Binti Masrizal dengan engkau, dengan maharnya seperangkat alat sholat dan ........tunai. Langsung disambut, " Aku terima nikahnya adik kandung Abang Yolla Noverina Binti Masrizal dengan maharnya seperangkat alat sholat dan .....tunai. Lanjut kata pak KUA, Sah? Sah kata saksi dan semua orang...Alhamdulillah sekali coba langsung lancar...

Ya, ini pengalaman pertamaku. Haru..sampai adik bungsuku pun menangis terisak, melihat prosesi ini. Aku pun mendapatkan jempol dari semua pihak yang hadir pada saat itu, karena dalam kondisi darurat tanpa direncanakan ijab qabul berjalan dengan lancar. Tak ada yang menyangka seperti ini jadinya.

Selepas pulang dari Mesjid Yolla mengejar dan memeluk erat papa, dan menangis tersedu. Ayah pun saling berpeluk dan menyalami Septri. Selepas makan siang bersama gantian keluarga adik iparku masuk ke kamar Ayah untuk melihat kondisi Ayah terkini..Dan besan Ayah pun selalu menyemangati papaku.

Malam itu selepas maghrib hujan pun turun dengan derasnya, seakan tenda yang sudah terpasang tak kuasa menahan deraian air yang turun membasahi bumi.

Tidak ada komentar:

Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar untuk tulisan ini..
(maaf untuk tidak menyertakan link aktif dan spam)

Diberdayakan oleh Blogger.