Antusias mahasiswa Universitas Andalas untuk menjadi entrepreneur tidak pernah surut. Terbukti, sudah 60 kali dilaksanakannya Kuliah Umum Kewirausahaan oleh Enterpreneur Center (EC) UNAND, mahasiswa tetap penuh memadati ruangan seminar PKM Lantai 1, tempat kuliah umum diselenggarakan. Sebuah dukungan yang yang besar dari rektor UNAND Bapak Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS. untuk memberikan bekalan kepada mahasiswa dan mewujudkan lahirnya enterpreneur dari rahim UNAND sendiri.
Salah satu indikator suksesnya perekonomian sebuah negara adalah terletak dari banyaknya jumlah pengusaha. Di Indonesia jumlah pengusaha 0,18 % dari total penduduk. Angka yang sangat sedikit di bandingkan dengan negara Amerika Serikat yang jumlah pengusahanya sebanyak 7 % dari total penduduk. Angka-angka yang dipaparkan tersebut merupakan pengantar oleh Rektor UNAND sebelum materi Kuliah Umum Kewirausahaan pada jum`at, 20 Maret 2009 disampaikan oleh Bapak Didi Theo.
Pengusaha Cake asal Padang ini, dimintakan oleh Rektor UNAND melalui entrepreneur center (EC) untuk memberikan materi dan penyampaian pengalaman bisnisnya kepada mahasiswa yang hadir pada hari itu. Pria yang berusia 28 tahun dengan nama lengkap Didi Tidore memberikan inspirasi, motivasi, trik dan tips yang begitu berharga kepada mahasiswa. Penyampaiannya yang biasa saja, namun kata-kata yang menggugah dan semangat menambah keinginan mahasiswa yang hadir untuk menetapkan pilihan profesi sebagai pengusaha.
“ Berwirausaha tidak lah gampang,” begitu kata-kata tegas pada awal pembicaraan bos Dallas Cake ini. “Pak Didi” sapaan mahasiswa adalah anak bungsu dari 4 bersaudara keturunan Chinese. Pada masa kecil, keluarganya termasuk keluarga yang kurang mampu, namun kegigihan seorang Ibu membuat setapak demi setapak keluarga ini menuju penghidupan yang lebih baik dan mengantarkan Didi Theo ke dunia bisnis.
Usaha di awal-awal berdiri hendaklah di fokuskan dalam satu bidang.“ Seorang pengusaha harus mengetahui sampai se-detail mungkin tentang usahanya tersebut, “ lanjut Pak Didi. Jangan masuk ke bisnis yang kita tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis tersebut. Pengetahuan dalam hal produksi, harus dikuasai oleh pemilik bisnis. Kualitas produk ditentukan dari proses produksi, jika terjadi kekurang - sesuaian dengan resep dan bahan maka dapat diketahui sebelum produk ini di pasarkan. Kualitas yang jelek akan mempengaruhi perkembangan bisnis selanjutnya.
Selama menjalankan usaha, banyak pengalaman yang Didi Theo dapatkan. Dalam slide materi Kewirausahaan yang disampaikannya, beliau menjelaskan ada 6 nilai-nilai Kewirausahaan yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Pertama, percaya diri. Keyakinan kepada diri sendiri juga akan mendukung perkembangan bisnis. Kedua, berorientasi tugas dari hasil. Ketiga, keberanian. Pada point ketiga, beliau memberikan persentase terbesar dari nilai-nilai KWU yang di dapatkan dari berwirausaha. Keempat, kepemimpinan. Suatu hal yang mutlak harus dimiliki oleh seorang entrepreneur. Kelima, Berorientasi ke masa depan dan keenam, Keorisinilan yang mengandung kreativitas dan inovasi.
Bangun pagi lebih awal merupakan kebiasaan Pak Didi, dan beliau menganjurkan kepada mahasiswa untuk melakukan hal serupa. Lanjut beliau dengan pepatah cina, “bagun pagi waktu ayam berkokok, maka rezeki kita akan bertambah. “
Pepatah minang ” Kapala Angsa, ” tidak kita dapati dalam diri pria dengan postur kurus dan tinggi ini. Potensi karyawannya sangat beliau perhatikan, termasuk dengan hak mereka. Didi Theo berpendapat, “ Potensi orang merupakan dukungan bagi kemajuan usaha kita. “ Pesannya “ Banyak berteman dengan siapa saja, ” juga menjadi titik tekan dalam penyampaian beliau di hadapan kurang lebih 300 orang peserta kuliah umum. “ Perampok saja butuh teman, “ imbuhnya dan peserta pun dibawa tertawa.
Berwirausaha haruslah memiliki motivasi yang kuat. Motivasi yang kuat tersebut berasal dari dalam diri sendiri. Siapa pun, sehebat apa pun, orang yang memberikan motivasi kepada kita tidak akan bertahan lama dibandingkan dengan motivasi dari dalam diri, lanjut pria yang mengidolakan Tung Desem Waringin dan menyukai bukunya yang berjudul Finansial Revolution.
Menumbuhkan motivasi dari dalam diri, tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Kuncinya ádalah kesadaran diri. Buat hidup makin berarti.
Berpandai-pandai melihat dalam melihat kesempatan juga harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Kesempatan tidak akan pernah berulang seperti kondisi sebelumnya. Untuk itu kita dituntut bersiap ketika kran kesempatan terbuka.
Kepercayaan dari orang dan terima akan kritik, dua hal yang harus di jaga dan dimiliki. Kepercayaan konsumen adalah mahal, jika pernah satu kali dikecewakan maka, untuk menumbuhkan kepercayaan selanjutnya amat susah. Begitu juga dengan menerima kritikan, pengusaha diminta menerima kritikan tersebut dengan lapang dada. Kritikan akan dapat memperlihatkan sisi kelemahan kita dan untuk diperbaiki, sehingga ke depan dapat lebih baik dari sebelumnya.
Pembukuan tidak dapat terlepas dari kegiatan berwirausaha. Pembukuan amat penting, kesiapan bisnis akan datang dapat dibantu dalam hal evaluasi dan perencanaan selanjutnya. Fungsi kontrol juga berperan, terutama dalam pencapaian target, dan produk yang bisa dilanjutkan atau dihentikan produksinya.
” Pisahkan uang pribadi dengan uang perusahaan, ” hal yang berulang-ulang di ingatkan. Jika tidak dipisahkan kita akan merasa uang di kantong masih banyak, padahal hanya seberapa. Solusi yang beliau tawarkan jika butuh uang, pengusaha dapat menentukan pemberian gaji sendiri atau melakukan kas bon.
" Uang bukanlah segala-galanya, tapi ada uang segalanya akan mudah. ” Ini kata yang sejak awal pelaksanaan kuliah umum sering di dengung-dengungkan berbagai pembicara seminar. Meskipun sering dilontarkan, tetapi masih ada saja mahasiswa beranggapan mulai bisnis itu harus punya uang. Lanjut Didi, ” Tanpa uang pun kita bisa memulai usaha. ”
Sebelum mengakhiri presentasinya, Didi Theo menjelaskan tips-tipsnya dalam berwirausaha. Pertama, never give up !. Kedua, tunda kesenangan. Ketiga, alokasi aset, jangan biarkan kelebihan simpanan duduk termenung. Keempat, Siapkan senjata baru berperang, bukan berperang dulu baru cari senjata. Kelima, utamakan 30 – 70, maksudnya 30 dari hasil untuk kebutuhan dan 70 untuk tabungan usaha. Keenam, nasib baik sama dengan persiapan ditambah kesempatan. Dan terakhir, buatlah uang tersebut selalu berputar.
Penyampaian materi dari Pak didi berakhir pukul 15.03 Wib, selanjutnya sesi diskusi. Audiens yang hadir tidak hanya dari mahasiswa UNAND saja, tetapi juga ikut hadir mahasiswa dari kampus lainnya di kota Padang. Waktu yang terbatas hanya memberikan kesempatan bertanya kepada sepuluh orang mahasiswa. Mahasiswa yang memberikan pertanyaan berasal dari 2 orang fakultas Pertanian, 3 orang dari fakultas Peternakan, 2 orang dari Teknik, 1 orang dari Politeknik, 1 orang dari MIPA, dan 1 orang dari FISIP. Pertanyaan yang muncul berkisar alasan pemberian nama usaha, cara mendapat modal, mengatasi rasa keputus asaan, tempat usaha, bekerja sendiri atau berkelompok ? dan tegas dalam berwirausaha.
Semua jawaban yang dilontarkan pembicara, dua hal tambahan yang menjadi penekanan terakhir Pak Didi. Pertama, aktifkan selalu naluri dan wawasan. Kedua, berdirilah di atas kaki sendiri, selagi bisa sendiri maka itu lebih baik.
Kuliah umum Kewirausahaan pada hari itu, berjalan sampai pukul 16.15. Rangkaian terakhir dalam kuliah Umum adalah pemberian kenang-kenangan kepada 3 audiens dengan pertanyaan terbaik dan penyerahan kenang-kenangan kepada pembicara oleh Rektor UNAND, sekaligus photo bersama. Seperti biasanya, sertifikat menanti di pintu keluar ruang seminar untuk dibagikan kepada peserta. Sertifikat kuliah umum ini merupakan salah satu syarat juga untuk mendapatkan bantuan dana usaha 8 juta per orang bagi bussiness plan terbaik dan sudah berjalan.
Riky Perdana, Staff Humas Pojok BNI UNAND
Minggu, Maret 22, 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
















0 komentar:
Poskan Komentar
Mohon Masukannya ya...